---
Beberapa minggu yang lalu saya ikut diklat buat jadi volunteer
di kampung sinau. Kampung sinau sendiri merupakan salah satu komunitas
di kota Malang yang memiliki kepedulian di bidang pendidikan anak-anak
di wilayah sekitar Cemorokandang.
Jadi,
kita diberikan beberapa materi yang salah satunya
diberikan oleh mas Eko Cahyono. Mas Eko ini merupakan pendiri dan
pemilik perpustakaan Anak Bangsa di wilayah kecamatan Jabung, Malang.
Mas Eko ini mendirikan perpustakaan pada tahun 1998.
Pada waktu itu, Mas Eko nggak dapat ijin dari kedua orangtuanya yang
menginginkan Mas Eko untuk menjadi guru. Akhirnya, Mas Eko keluar dari
rumah dan mengontrak sebuah bangunan untuk dijadikan perpustakaan.
Mas
Eko memiliki beberapa opini yang membuat saya beberapa kali bergumam
“Oh, iya ya” atau “Iya juga sih”. Saya suka sekali dengan cara Mas Eko
mengelola perpustakaan yang sekarang sudah memiliki sekitar 58000
koleksi buku itu. Mas Eko bilang ini merupakan cara Mas Eko buat ‘balas
dendam’ ke pemerintah karena menerapkan peraturan-peraturan ‘nggak masuk
akal’ di perpustakaan-perpustakaan pada umumnya. Contoh paling
mudahnya, Mas Eko mengijinkan semua orang datang dan meminjam buku di
perpustakaannya tanpa meninggalkan KTP/SIM/identitas lain. Mas Eko juga
mengijinkan kita buat makan, minum, tidur, ngrokok, mendengarkan musik,
gitaran, nonton TV, dengerin radio, dll, dll, di perpustkaannya.
Mas Eko
beranggapan bahwa dengan memberikan kebebasan tersebut, masyarakat
bakal lebih suka dan nyaman untuk datang ke perpustakaan. Apalagi ada
beberapa perpustakaan yang sampai memberikan syarat untuk menyertakan
surat dari RT/RW untuk membuat kartu keanggotaan. Iya—itu ribet banget,
makanya saya nggak jadi bikin kartu perpus di Malang soalnya males
nyari-nyari ketua RT/RW. Terus juga, di perpustakaan-perpustakaan umum
seperti perpustakaan sekolah atau perpustakaan kota, pasti ada buku yang
kelihatan tebel dan mahal yang ditaruh di dalam lemari kaca tanpa kita
boleh meminjamnya. Nggak masuk akal sih, soalnya buku kan gunanya buat
dibaca bukan dipajang. Jadi, Mas Eko tidak memberikan aturan-aturan di
perpustakaannya karena katanya beliau mau ‘balas dendam’ ke pemerintah
yang memberikan peraturan yang ribet sehingga perpustakaan sekarang
sudah nggak ada bedanya dengan kuburan.
Bahkan.
Karena tidak adanya peraturan konkrit mengenai berapa lama sebuah buku
bisa dipinjam, buku-buku tersebut bisa saja dipinjam selama sebulan, dua
bulan, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Kalau sebuah buku tidak
kembali, Mas Eko menganggap buku tersebut sudah menemukan pembacanya.
Duh, saya suka sekali dengan pemikiran yang ini.
Ketika
ditanya kenapa Mas Eko bisa bertahan mengelola perpustakaan selama 18
tahun ini, alasannya adalah karena Mas Eko menemukan banyak kisah-kisah
yang kadang cuma kita kira ada di film tapi ternyata ada di dunia nyata.
Mas Eko bercerita bahwa pernah ada seorang ibu guru yang non-PNS yang
sudah mengabdi lama sekali (saya lupa berapa tahun tepatnya) tapi sampai
saat itu hanya mendapatkan gaji sebesar Rp 125000/bulan. Ibu guru
tersebut curhat dengan Mas Eko bahwa beliau bakal berhenti menjadi guru
dan menjadi buruh pabrik yang memiliki gaji jauh di atasnya. Hari itu,
si ibu guru meminjam beberapa buku dan oleh Mas Eko diselipkan juga buku
Laskar Pelangi di antara buku-buku yang dipinjam ibu itu. Selang tiga
bulan kemudian, ibu itu kembali untuk mengembalikan bukunya. Ketika Mas
Eko membuka buku Laskar Pelangi yang baru dikembalikan itu, terdapat
secarik kertas di salah satu bab yang kurang lebih seperti ini
tulisannya;
Ya
Allah, saya tidak akan berhenti menjadi guru. Alhamdulillah saya masih
digaji 125000 rupiah/bulan, Bu Muslimah saja hanya digaji 1 kg
beras/bulan.
Aduh,
saya trenyuh sekali. Mahasiswa pendidikan mana yang nggak tersentuh
hatinya oleh cerita tersebut. Dan Mas Eko bilang itu bukan satu-satunya
cerita mengharukan seputar membaca buku. Banyak perubahan-perubahan yang
telah dilakukan oleh sebuah buku lainnya.
Ketika
ditanya apakah Mas Eko nggak takut buku-buku yang ada di perpustkaannya
dicuri karena perpustakaannya bebas tanpa aturan, Mas Eko bilang
enggak. Soalnya, orang desa itu nggak pernah tahu mahalnya harga buku.
Ketika semisal diberitahu untuk berhati-hati saat membaca buku-buku
Harry Potter yang harganya ratusan ribu itu, mereka pasti bakal bilang;
“Halah, berapa sih harganya paling cuma 10 ribu.” (Wkwk ya demi apa itu harpot sepuluh rebong)
Jadi,
karena ketidaktahuan dan kepolosan mereka inilah yang membuat mereka
untuk tidak berpikiran mencuri buku disana. Karena ya—buku-buku
merupakan barang yang jarang mereka jumpai sehingga sekedar harganya pun
mereka nggak tahu. Mereka juga nggak bakal tahu kalo serial harpot itu
ratusan ribu. Yang mereka tahu adalah mereka ke perpustakaan itu cuma
buat membaca buku.
Mas
Eko bilang (dan saya juga pernah baca dimana gitu) sebuah survei
mengatakan bahwa minat baca orang Indonesia itu cuma sekitar 0,1%. Duh,
siapa sih yang nggak miris lihat survei itu. Tapi ternyata kata Mas Eko
survei tersebut sama sekali nggak bener karena selama hidupnya sendiri,
Mas Eko telah membuktikan bahwa sebenarnya orang-orang itu suka membaca
namun memang orang-orang itu tidak diberikan fasilitas untuk membaca.
Buktinya, ketika Mas Eko mendatangi rumah-rumah dengan menawarkan
buku-buku untuk dipinjam, orang-orang selalu berebutan untuk membaca
buku-buku itu. Buktinya, ketika buku baru datang, antrian panjang untuk
meminjam selalu panjang. Hal tersebut tentunya menunjukkan bahwa minat
baca orang Indonesia sebenarnya besar tapi fasilitasnya saja yang
kurang. Orang-orang desa nggak ngerti sistem untuk pinjam-meminjam buku
yang ribet di perpustakaan kota. Mereka yang dengan pakaian lusuhnya
datang ke perpustakaan kota, jangankan meminjam, diperbolehkan masuk ke
dalam saja masih belum pastinya.
Pemerintah
menghimbau untuk ‘Ayo Indonesia, kita membaca,’ tapi yang sebenarnya
terjadi adalah hanya kalangan tertentu saja yang memiliki kesempatan
untuk membaca.
Kemudian,
ada sedikit sindiran buat kita (saya) yang suka beli buku dan sayang
banget sama buku. Ketika kita menyayangi buku, kita cenderung pelit
dalam meminjamkan buku. Kita cenderung ‘eman-eman’ dalam memberikan ijin
pinjam-meminjam. Paling dibaca sekali dua kali terus dipinjamkan satu
atau dua teman dan sudah, buku tersebut dibiarkan dan ditata rapi di rak
atau lemari. Padahal hakikatnya buku itu dibaca dan bukannya disimpan
saja. Karena katanya buku itu sejuta ilmu, bayangkan saja ketika kita
menyumbangan lima buah buku di sebuah taman bacaan yang sekarang sedang
dikembangan oleh para pemuda di beberapa wilayah. Lima buku sama dengan
lima juta ilmu, belum lagi ketika dikali dengan banyaknya orang yang
membacanya setiap hari. Bisa dibayangkan berapa ilmu yang sudah kita
bagi disana. Perkataan yang satu ini membuat saya langsung kepikiran
dengan buku-buku saya yang berdebu di rak meja belajar di rumah.
Saya
kalo nggak salah pernah cerita ke temen saya kalo pengen sekali punya
perpustakaan yang diperuntukkan untuk umum makanya saya rajin beli buku
kalo punya uang. Sampe kadang sama ibuk dimarahin soalnya ibuk
nganggepnya itu nggak penting dan mahal meski saya selalu bilang kalau
buku itu juga termasuk tabungan. Hihihi, emang sih buku makin lama emang
makin mahal udah kayak sembako. Sampe ngebuat saya sebagai mahasiswa
fakir ini jarang banget menyambangi togamas. Saya inget banget pas bulan
November kalo nggak Desember tahun lalu itu saya beli buku yang
menghabiskan uang yang lumayan. Saya inget soalnya saya dapat gelas
cantik karena waktu itu bertepatan dengan ulang tahun togamas. Waktu itu
saya dapat stempel dan kalau saya bisa mengumpulkan stampel di tiga
bulan berikutnya dengan berbelanja buku minimal berapa gitu (saya lupa)
saya bakal dapat souvenir lagi. Bahkan sampe masa tiga bulan itu habis,
saya nggak menginjakkan kaki di togamas karena nggak punya uang. Baru
awal Agustus kemarin saya akhirnya bisa ke togamas. Sumpah ya, itu
rasanya kayak yang udah bertahun-tahun, sampe yang kangen banget gitu lo
sama baunya buku-buku baru disana. Hahaha.
Intinya
sih, dengan menuliskan ini saya berharap bakal banyak orang yang
tergugah hatinya untuk membantu. Sekedar hal-hal kecil yang sebenarnya
mudah buat kita lakukan tapi nggak jarang kita enggan lakukan. Contoh
sederhanya, meminjamkan buku. Saya juga berharap untuk siapapun yang
selalu pesimis dengan minat baca orang Indonesia, menghilangkan
jauh-jauh anggapan tersebut karena asal kalian tahu saja masih
banyaaaakkkk sekali orang yang mau dan ingin membaca namun terkendala
oleh buku bacaan yang sulit untuk diakses. Harapan terakhir saya adalah
untuk pemerintah (duh sok bangetlaw), tolong dong buku bacaan itu
disubsidi biar harganya makin lama nggak makin mahal sampe saingan sama
harga sembako, biar gerakan untuk menggalakkan kebiasaan membaca itu
bisa benar-benar dilakukan.
Sudah.
Wassalam.
Oh iya, terimakasih buat Mas Eko yang menginspirasi sekali.
Oke, ini sudah beneran.
Wassalam.
fin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar