Senin, 19 Desember 2016

Buku Buat Semua

library-Luscious-books-and-libraries

---
Beberapa minggu yang lalu saya ikut diklat buat jadi volunteer di kampung sinau. Kampung sinau sendiri merupakan salah satu komunitas di kota Malang yang memiliki kepedulian di bidang pendidikan anak-anak di wilayah sekitar Cemorokandang.

Jadi, kita diberikan beberapa materi yang salah satunya diberikan oleh mas Eko Cahyono. Mas Eko ini merupakan pendiri dan pemilik perpustakaan Anak Bangsa di wilayah kecamatan Jabung, Malang. Mas Eko ini mendirikan perpustakaan pada tahun 1998. Pada waktu itu, Mas Eko nggak dapat ijin dari kedua orangtuanya yang menginginkan Mas Eko untuk menjadi guru. Akhirnya, Mas Eko keluar dari rumah dan mengontrak sebuah bangunan untuk dijadikan perpustakaan.

Mas Eko memiliki beberapa opini yang membuat saya beberapa kali bergumam “Oh, iya ya” atau “Iya juga sih”. Saya suka sekali dengan cara Mas Eko mengelola perpustakaan yang sekarang sudah memiliki sekitar 58000 koleksi buku itu. Mas Eko bilang ini merupakan cara Mas Eko buat ‘balas dendam’ ke pemerintah karena menerapkan peraturan-peraturan ‘nggak masuk akal’ di perpustakaan-perpustakaan pada umumnya. Contoh paling mudahnya, Mas Eko mengijinkan semua orang datang dan meminjam buku di perpustakaannya tanpa meninggalkan KTP/SIM/identitas lain. Mas Eko juga mengijinkan kita buat makan, minum, tidur, ngrokok, mendengarkan musik, gitaran, nonton TV, dengerin radio, dll, dll, di perpustkaannya.

Mas Eko beranggapan bahwa dengan memberikan kebebasan tersebut, masyarakat bakal lebih suka dan nyaman untuk datang ke perpustakaan. Apalagi ada beberapa perpustakaan yang sampai memberikan syarat untuk menyertakan surat dari RT/RW untuk membuat kartu keanggotaan. Iya—itu ribet banget, makanya saya nggak jadi bikin kartu perpus di Malang soalnya males nyari-nyari ketua RT/RW. Terus juga, di perpustakaan-perpustakaan umum seperti perpustakaan sekolah atau perpustakaan kota, pasti ada buku yang kelihatan tebel dan mahal yang ditaruh di dalam lemari kaca tanpa kita boleh meminjamnya. Nggak masuk akal sih, soalnya buku kan gunanya buat dibaca bukan dipajang. Jadi, Mas Eko tidak memberikan aturan-aturan di perpustakaannya karena katanya beliau mau ‘balas dendam’ ke pemerintah yang memberikan peraturan yang ribet sehingga perpustakaan sekarang sudah nggak ada bedanya dengan kuburan.

Bahkan. Karena tidak adanya peraturan konkrit mengenai berapa lama sebuah buku bisa dipinjam, buku-buku tersebut bisa saja dipinjam selama sebulan, dua bulan, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Kalau sebuah buku tidak kembali, Mas Eko menganggap buku tersebut sudah menemukan pembacanya. Duh, saya suka sekali dengan pemikiran yang ini.

Ketika ditanya kenapa Mas Eko bisa bertahan mengelola perpustakaan selama 18 tahun ini, alasannya adalah karena Mas Eko menemukan banyak kisah-kisah yang kadang cuma kita kira ada di film tapi ternyata ada di dunia nyata. Mas Eko bercerita bahwa pernah ada seorang ibu guru yang non-PNS yang sudah mengabdi lama sekali (saya lupa berapa tahun tepatnya) tapi sampai saat itu hanya mendapatkan gaji sebesar Rp 125000/bulan. Ibu guru tersebut curhat dengan Mas Eko bahwa beliau bakal berhenti menjadi guru dan menjadi buruh pabrik yang memiliki gaji jauh di atasnya. Hari itu, si ibu guru meminjam beberapa buku dan oleh Mas Eko diselipkan juga buku Laskar Pelangi di antara buku-buku yang dipinjam ibu itu. Selang tiga bulan kemudian, ibu itu kembali untuk mengembalikan bukunya. Ketika Mas Eko membuka buku Laskar Pelangi yang baru dikembalikan itu, terdapat secarik kertas di salah satu bab yang kurang lebih seperti ini tulisannya;

Ya Allah, saya tidak akan berhenti menjadi guru. Alhamdulillah saya masih digaji 125000 rupiah/bulan, Bu Muslimah saja hanya digaji 1 kg beras/bulan.

Aduh, saya trenyuh sekali. Mahasiswa pendidikan mana yang nggak tersentuh hatinya oleh cerita tersebut. Dan Mas Eko bilang itu bukan satu-satunya cerita mengharukan seputar membaca buku. Banyak perubahan-perubahan yang telah dilakukan oleh sebuah buku lainnya.

Ketika ditanya apakah Mas Eko nggak takut buku-buku yang ada di perpustkaannya dicuri karena perpustakaannya bebas tanpa aturan, Mas Eko bilang enggak. Soalnya, orang desa itu nggak pernah tahu mahalnya harga buku. Ketika semisal diberitahu untuk berhati-hati saat membaca buku-buku Harry Potter yang harganya ratusan ribu itu, mereka pasti bakal bilang;

“Halah, berapa sih harganya paling cuma 10 ribu.” (Wkwk ya demi apa itu harpot sepuluh rebong)
Jadi, karena ketidaktahuan dan kepolosan mereka inilah yang membuat mereka untuk tidak berpikiran mencuri buku disana. Karena ya—buku-buku merupakan barang yang jarang mereka jumpai sehingga sekedar harganya pun mereka nggak tahu. Mereka juga nggak bakal tahu kalo serial harpot itu ratusan ribu. Yang mereka tahu adalah mereka ke perpustakaan itu cuma buat membaca buku.

Mas Eko bilang (dan saya juga pernah baca dimana gitu) sebuah survei mengatakan bahwa minat baca orang Indonesia itu cuma sekitar 0,1%. Duh, siapa sih yang nggak miris lihat survei itu. Tapi ternyata kata Mas Eko survei tersebut sama sekali nggak bener karena selama hidupnya sendiri, Mas Eko telah membuktikan bahwa sebenarnya orang-orang itu suka membaca namun memang orang-orang itu tidak diberikan fasilitas untuk membaca. Buktinya, ketika Mas Eko mendatangi rumah-rumah dengan menawarkan buku-buku untuk dipinjam, orang-orang selalu berebutan untuk membaca buku-buku itu. Buktinya, ketika buku baru datang, antrian panjang untuk meminjam selalu panjang. Hal tersebut tentunya menunjukkan bahwa minat baca orang Indonesia sebenarnya besar tapi fasilitasnya saja yang kurang. Orang-orang desa nggak ngerti sistem untuk pinjam-meminjam buku yang ribet di perpustakaan kota. Mereka yang dengan pakaian lusuhnya datang ke perpustakaan kota, jangankan meminjam, diperbolehkan masuk ke dalam saja masih belum pastinya.

Pemerintah menghimbau untuk ‘Ayo Indonesia, kita membaca,’ tapi yang sebenarnya terjadi adalah hanya kalangan tertentu saja yang memiliki kesempatan untuk membaca.

Kemudian, ada sedikit sindiran buat kita (saya) yang suka beli buku dan sayang banget sama buku. Ketika kita menyayangi buku, kita cenderung pelit dalam meminjamkan buku. Kita cenderung ‘eman-eman’ dalam memberikan ijin pinjam-meminjam. Paling dibaca sekali dua kali terus dipinjamkan satu atau dua teman dan sudah, buku tersebut dibiarkan dan ditata rapi di rak atau lemari. Padahal hakikatnya buku itu dibaca dan bukannya disimpan saja. Karena katanya buku itu sejuta ilmu, bayangkan saja ketika kita menyumbangan lima buah buku di sebuah taman bacaan yang sekarang sedang dikembangan oleh para pemuda di beberapa wilayah. Lima buku sama dengan lima juta ilmu, belum lagi ketika dikali dengan banyaknya orang yang membacanya setiap hari. Bisa dibayangkan berapa ilmu yang sudah kita bagi disana. Perkataan yang satu ini membuat saya langsung kepikiran dengan buku-buku saya yang berdebu di rak meja belajar di rumah.

Saya kalo nggak salah pernah cerita ke temen saya kalo pengen sekali punya perpustakaan yang diperuntukkan untuk umum makanya saya rajin beli buku kalo punya uang. Sampe kadang sama ibuk dimarahin soalnya ibuk nganggepnya itu nggak penting dan mahal meski saya selalu bilang kalau buku itu juga termasuk tabungan. Hihihi, emang sih buku makin lama emang makin mahal udah kayak sembako. Sampe ngebuat saya sebagai mahasiswa fakir ini jarang banget menyambangi togamas. Saya inget banget pas bulan November kalo nggak Desember tahun lalu itu saya beli buku yang menghabiskan uang yang lumayan. Saya inget soalnya saya dapat gelas cantik karena waktu itu bertepatan dengan ulang tahun togamas. Waktu itu saya dapat stempel dan kalau saya bisa mengumpulkan stampel di tiga bulan berikutnya dengan berbelanja buku minimal berapa gitu (saya lupa) saya bakal dapat souvenir lagi. Bahkan sampe masa tiga bulan itu habis, saya nggak menginjakkan kaki di togamas karena nggak punya uang. Baru awal Agustus kemarin saya akhirnya bisa ke togamas. Sumpah ya, itu rasanya kayak yang udah bertahun-tahun, sampe yang kangen banget gitu lo sama baunya buku-buku baru disana. Hahaha.

Intinya sih, dengan menuliskan ini saya berharap bakal banyak orang yang tergugah hatinya untuk membantu. Sekedar hal-hal kecil yang sebenarnya mudah buat kita lakukan tapi nggak jarang kita enggan lakukan. Contoh sederhanya, meminjamkan buku. Saya juga berharap untuk siapapun yang selalu pesimis dengan minat baca orang Indonesia, menghilangkan jauh-jauh anggapan tersebut karena asal kalian tahu saja masih banyaaaakkkk sekali orang yang mau dan ingin membaca namun terkendala oleh buku bacaan yang sulit untuk diakses. Harapan terakhir saya adalah untuk pemerintah (duh sok bangetlaw), tolong dong buku bacaan itu disubsidi biar harganya makin lama nggak makin mahal sampe saingan sama harga sembako, biar gerakan untuk menggalakkan kebiasaan membaca itu bisa benar-benar dilakukan.

Sudah.

Wassalam.

Oh iya, terimakasih buat Mas Eko yang menginspirasi sekali.

Oke, ini sudah beneran.

Wassalam.


fin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar